Pernah suatu ketika Saya mengikuti pelatihan tentang kepribadian gitu. Acara ini diselenggarakan oleh salah satu perusahaan swasta yang juga kebetulan memberikan beasiswa kepada saya dan teman2 dalam program magister yang saya ambil.
Dalam acara tersebut, saya diminta menggambar sungai kehidupan. Pertama diberikan tugas itu, saya bingung. “Haduh, sungai kehidupan? Kok kayak gampang yah?”
Memang benar, setelah diberikan contoh dan saya menggambarnya, memang “sangat” mudah. Bahkan paling juga dalam waktu 5 menit sudah selesai. Saya bingung, saya perhatikan kembali sungai kehidupan saya. Rasanya memang semuanya sudah tergambar disana, sementara saya perhatikan teman-teman di sekeliling saya, masih sibuk berkutat dengan spidol warna-warni yang diberikan dan kertas A4. Ada yang salah dengan sungai kehidupan saya?
Yah, ada yang salah…
Bukan cara menggambarnya, tetapi isi yang tergambar disana. Sangat flat… Benar-benar flat. Rasanya hidup begitu mudah bagi saya. Atau orang-orang dilingkungan saya yang mempermudah hidup saya. Jadi ingat semboyan yang saya percaya “Life is never flat”. Tapi apa yang terjadi dengan hidup saya? Sangat flat, benar-benar lurus.
Bukan salah saya, juga bukan salah orang-orang disekitar saya. Hanya saja saya mendapat hal dengan mudah selama ini. Lulus SMA dengan nilai dan peringkat terbaik, kemudian masuk ke universitas no.1 di Indonesia, menyelesaikan program sarjana dengan waktu kurang dari 4 tahun dan lulus dengan predikat Cum Laude. Selanjutnya mengambil program magister, masih di universitas yang sama dan mampu menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 1 tahun dan mendapat peringkat yang sama ketika saya menyelesaikan program sarjana. Tapi apa artinya semua ini?
Ketika harus dihadapkan dengan realita kehidupan, saya sama saja dengan orang-orang yang lain, bahkan saya kalah bersaing. Kenapa? Semboyan yang saya percaya ternyata hanya sebatas semboyan saja, tidak saya terapkan dalam kehidupan saya.
Akibatnya, keluar dari zona aman dan nyaman sedikit saja, saya langsung collapse. Ibarat badan, saya sangat rentan dengan penyakit, tidak bisa masuk ke daerah kotor, pasti langsung masuk rumah sakit.
Salah… memang salah. Akibatnya hidup saya yang terprogram dari kecil menjadi ketar-ketir ketika saya telah selesai program magister. Artinya saya harus bekerja, tapi bekerja dimana? Bagaimana? Seperti apa? masa masih dicarikan oleh orang tua? Masa masih disuruh kerja disana, disini, ditempat om saja, yang ada kolega saja…
Orang tua tidak pernah salah, hanya saja saya berpikir, kalau terus seperti ini, hidup saya mau jadi seperti apa? Masa muara sungai kehidupan saya tidak ada cabangnya? Masa lurus? Dilihat dari segi seninya saja, sepertnya memiliki nilai nol.
Tidak mau, tentu saja saya tidak mau.
Tapi, pelajaran hidup yang saya dapatkan selama ini, membuat saya bingung. Berada dipersimpangan memang tidak mudah. Ini yang saya rasakan sekarang. Bingung mau ngapain. Bingung mau kemana harus berjalan. dan bingung mau ngambil keputusan apa.
Disini saya baru menyadari sesuatu. Yah, ini salahnya. Saya tidak punya MIMPI. Saya tidak punya CITA-CITA. Saya tidak punya KEINGINAN. Saya saja tidak tahu mau menjadi apa? seperti apa? mendapat apa?
Ketika waktu saya kecil, ditanya cita-citanya apa, saya dengan lantang menyebutkan “Menjadi Pramugari, menjadi Pilot, menjadi Astrounot, menjadi Dokter, dan menjadi Guru”
Punya banyak sekali cita-cita… Banyak sekali.
Tapi kenapa ketika pertanyaan itu ditanyakan orang kembali kepada saya ketika saya berumur 22 tahun, saya kelimpungan mau jawab apa. Saya bingung mau jawab apa. Kenapa tidak seperti waktu kecil, dengan lantang langsung bisa menjawab mau jadi apa.
Tiba-tiba ingin menjadi orang yang ahli di bidang kimia, lain waktu ingin menjadi orang yang ahli di bidang ekonomi, lain waktu ingin langsung kerja, dan lain waktu ingin lanjut kuliah saja. Benar-benar seperti bunglon, berubah setiap saat.
Tentu saja ini harus diakhiri. Saya tidak ingin menjadi sampah masyarakat, berilmu tapi tidak bisa mengamalkannya. Sama saja saya jadi orang yang merugi. Tentu saya tidak mau.
MIMPI… saya harus punyai itu secepatnya. Saya harus temukan dia sebisa mungkin.
Pas saya dengar iklan di salah satu radio swasta di Bandung, saya merinding. Dengan usia yang muda, seseorang sudah bisa sukses, sudah bisa mendapatkan ini itu dalam hidupnya. Yah, saya merinding dan langsung menyadari, “Dia pasti punya program sendiri dalam hidupnya, dia pasti punya mimpi yang dengan keyakinannya sendiri, dia bisa wujudkan mimpinya, menjadi seperti apa yang dia inginkan”
Tentu saya ingin menjadi seperti orang itu. Yah, menggapai sukses dalam usia muda karena punya MIMPI sehingga jalan hidup jelas dan goal yang diancang-ancang didepan bisa digapai dengan mudah.
Selalu semangat dalam menjalani hidup. Saya percaya Tuhan telah menggariskan yang terbaik bagi saya. Bukan berarti sekarang saya pasrah menunggu takdir datang, namun saya bertekad mulai sekarang harus menemukan MIMPI saya dan mewujudkannya dengan sebaik mungkin. Biar suatu saat nanti, ketika orang-orang bertanya apa CITA-CITA saya, dengan lantang dan yakin saya dapat menyebutkannya. SEMANGAT…!!! Bagi teman-teman yang belum menemukan mimpinya, mari kita bersama-sama mecarinya. Semoga kita selalu mendapatkan yang terbaik dalam kehidupan ini.
Semoga semboyan “Life is never flat” benar-benar terjadi dalam hidup saya